Studi Komponen Struktur Pembangunan Jalan Tol dengan Metode Sewa Lahan

Studi Kasus Proyek Jalan Tol Semarang-Solo

Authors

  • Suparta Magister Teknik Sipil Universitas Muslim Indonesia
  • Abd Karim Hadi Universitas Muslim Indonesia
  • Ratna Musa Universitas Muslim Indonesia

Keywords:

Biaya, Resiko, Sewa Lahan

Abstract

Pada pengembangan jalan Tol Colomadu-Karanganyar, digunakan sistem sewa lahan pada pihak masyarakat (Pihak I) dengan PT. Waskita, Tbk, sebagai pihak kedua. Selama masa sewa menyewa berjalan pihak kedua bebas mempergunakan/memakai lahan tersebut di atas untuk keperluan pihak kedua sebagai keperluan pelaksanan pekerjaan timbunan akses tol bandara rangka pelaksanaan pekerjaan pembangunan paket pambahan Jalan Tol Ruas Colomadu – Karanganyar. Agar perbuatan sewa menyewa tanah antara pemilik tanah dan penyewa tidak menimbulkan kerugian secara finansial, maka dibutuhkan pengelolaan manajemen risiko dalam hal biaya untuk menekan beban pelaksanaan pembangunan infrastruktur di Jalan Tol Colomadu – Karanganyar bagi pihak pelaksana pembangunan dan pihak masyarakat sebagai penyedia lahan sewa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi besarnya biaya sewa lahan pada pembangunan infrastruktur jalan tol Colomadu-Karanganyar agar perusahaan pengembang tidak mengalami kerugian serta untuk mengetahui hasil analisa resiko akibat banyaknya lahan yang belum bebas pada pada pembangunan infrastruktur jalan tol Colomadu-Karanganyar. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan teknik pengumpulan data wawancara langsung dan pengamatan. Data dianalisis dengan analisa titik impas menggunakan Break Even Point (BEP). Hasil dari penelitian ini yakni: Persamaan biaya dimana, biaya total yaitu: Y = Rp. 945.608.333 + 3.263.716 unit tersewa. Maka dibutuhkan 48 unit sewa agar laba perusahaan berada pada titik impas. Berdasarkan hasil analisa manajemen resiko dapat disimpulkan bahwa resiko yang diakibatkan belum bebasnya lahan sangat besar, karena realisasi beban kontrak (BK) setiap bulan akan melebihi rencana karena tidak ada progres (Pendapatan Usaha) yang masuk tetapi beban BAU tetap ada. Sehingga agar pihak kontraktor pelaksana dapat tetap mendapatkan pendapatan usaha, maka pihak kontraktor harus melakukan sewa lahan.

Published

2021-08-24